Archive for the 'Renungan' Category

Menghukum Anak

Inilah riwayat Bukhari. Husain, cucu Nabi yang masih kecil ketika itu, mengambil sebiji kurma sedekah. Ia masukkan ke dalam mulutnya. Begitu mengetahui, Nabi SAW. segera mengeluarkan kurma itu dari mulut cucunya.

Haram bagi keluarga Nabi makan sedekah. Karenanya, Nabi SAW. segera bertindak agar tak ada harta haram yang tertelan oleh cucunya.

Kisah yang diriwayatkan oleh Bukhari ini mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal. Di dalamnya ada pelajaran tentang kehati-hatian dalam memakan harta agar tak terjatuh dalam dosa dan syubhat. Di dalamnya ada pelajaran tentangg tarbiyah; seorang anak perlu belajar menjauhi yang haram meskipun perbuatan mereka belum dihisab, sehingga tak ada dosa bagi mereka. Di dalamnya juga terdapat contoh tentang ketegasan. Nabi adalah orang yang paling sayang kepada anak -anak dan cucunya. Tetapi besarnya kasih-sayang, tidak menghalangi Nabi SAW. untuk menunjukkan ketegasannya.

Kisah tentang kurma ini hanyalah satu di antara sekian banyak hadist yg menceritakan kepada kita tentang bagaimana Nabi SAW mendidik anak. Sepanjang yg mampu saya pahami, ada perbedaan cara dalam menyikapi perilaku anak.

Nabi SAW. melarang orangtua memarahi anak yang memecahkan piring karena segala sesuatu ada batas umurnya, termasuk piring. Nabi SAW. juga pernah menegur sahabat yang melarang anak kecil bermain pasir. Ketika Ummu Al-Fadhl merenggut anaknya secara kasar karena pipis di dada Nabi SAW, dgn tegas beliau menegur, “Pakaian yg kotor ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yg dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yg kasar?”

Sejauh kesalahan itu tidak berkaitan dengan hak orang lain, atau berhubungan dengan halal dan haram, Nabi SAW. menunjukkan sikap yang lunak. Tetapi Nabi SAW. segera mengambil sikap yang tegas ketika itu menyangkut hak orang lain.

Besarnya penghormatan Nabi SAW. terhadap hak, tampak semakin jelas bila kita mengingat satu peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim:

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., Rasulullah SAW. pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau, ada seorang anak kecil dan di sebelah kiri duduk para orangtua. Beliau bertanya kepada anak kecil itu, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?” Anak kecil itu menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu.” Rasulullah SAW. meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Read the rest of this entry »

365 hari yang lalu…

Tahun baru selalu menakutkan. Takut akan waktu yang tersisa. Takut pada kesia-siaan langkah yang tinggal beberapa jengkal. Paradok !! Berkurangnya kesempatan hidup justru sering disakralkan dengan pesta-pesta yang mengurutkan dada. Abnormal !! Kesempatan hidup yang semakin sempit justru diperingati dengan hedonis yang berlebihan. Tahun Baru adalah peringatan !!. Tahun Baru adalah terminal yang selalu mengingatkan kita akan kain kafan. Tahun baru selalu saja tidak dipahami ?!.

365 hari di 2007 dan 1428 H baru saja lewat, tidak semua buruk, banyak juga hal menyenangkan yang terjadi. tapi di 2007 kemarin Pa’Dhe ini rasanya makin ceroboh saja, mudah lupa pula, padahal masih muda juga makin malas. malas bangun pagi, malas olahraga, malas menabung, tapi tidak malas makan dan kian gendut. hari ini…mudah-mudahan bisa jadi awal untuk meneguhkan kembali semangat, mengusir malas -hush, hush, ayo rasa malas pergilah jauhjauh-, memulai langkah kecil, bergerak mewujudkan cita -tak lagi khayal semata-, semoga 2008 dan 1428 H lebih baik, untuk saya, untuk kalian, untuk semua

Marhabban Yaa Ramadhan

Gag terasa Bulan Ramadhan (yg sebagian orang menganggap sebagai kawah candradimuka tuk menghadapi 11 bulan berikutnya) bentar lagi akan datang, ya..Insya Allah kita termasuk orang-orang yg “beruntung” bisa bertemu kembali dengan Bulan nan suci itu. Sudah lazim kalo’ bulan Ramadhan itu identik dengan Shalat Tarawih, yg mana dengan Tarawih tersebut kita bisa menggali pahala sebanyak-banyaknya di bulan penuh rahmat, bulan dimana dilipatgandakannya pahala, penuh berkah, ampunan dan maghfiroh dari Allah SWT.

Yuuuk..sambut bulan Ramadhan dengan hati riang gembira layaknya kita kedatangan tamu kehormatan dirumah kita, gag sah sombong dan pamrih tuk berbuat kebajikan di bulan Ramadhan. Luangkan sedikit waktu tuk sedekah…ya sedekah apa saja, paling tidak bisa membuat orang lain merasa senang dengan kepedulian kita.

Jangan ragu tuk langkahkan kaki menuju Masjid, paling tidak 10 hari pertama di bulan Ramadhan kita berada diantara para jamaah, toh Malaikat bakal nyatat ke agendanya, kalo’ kita ada di 10 hari pertama selanjutnya gag tau kemana… , Tp bukan itu intinya, yg penting ikhlas menjalankan ibadah puasa, ikhlas tadharuz Al-Qur’an, ikhlas menghidupkan malam dengan ibadah tambahan, dan ikhlas kehilangan sendal

Mungkin bisa bw kunci gembok buat sendal, paling tidak jangan sampai ibadah tidak kyusuk hanya gara-gara mikirin sendal.. . Selamat berpuasa, Mohon maaf lahir bathin, semoga kita menjadi hamba-hamba plus sesudah bulan Ramadhan. Amiin.

Merdeka..Merdeka.


“Indonesia tahah airku, tanah tumpah darahku.. Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku…Marilah kita berseru Indonesia bersatu……..”

Merdeka, merdeka,merdeka bung, merdeka mak, merdeka mba, merdeka semuanya…
Senang juga bisa ngomong merdeka kepada siapa saja walaupun belum tentu kita merdeka dalam arti yg sebenarnya….

Ya kemerdekaan negara bukanlah kemerdekaan yg sebenarnya bagi rakyat NKRI. Coba tengok sampai detik ini kita selalu menjadi yg terbelakang dalam hal sosial ekonomi. Banyak rakyat kita yg masih menderita, hidup ditindas dan serba kekurangan, sedangkan mantan pejuang tidak pernah diperhatikan.

Coba tengok para veteran pejuang kemerdekaan, sampai detik ini mereka hanya menerima 600 ribu rupiah saja setiap bulannya, apakah itu sebanding dengan tetesan darah dan keringat mereka tatkala berjuang demi berdirinya NKRI??, bahkan mungkin gaji pensiun seorang tukang sapu pun bisa jadi lebih tingi di banding mereka, yg mungkin masih harus menghidupi keluarga.

Wah agak susah memang, kalo’ ngomongin masalah ini, toh pemerintah mau begini justru DPR yg katanya wakil rakyat (preeetzz…..) maunya begitu. Toh kalo’ memang mereka dianggap mewakili hati nurani rakyat kenapa sih harus berbelit-belit urusannya. Tapi kalo’ yg soal jalan-jalan ke luar negeri pake uang rakyat justru itu yg nomor utama.

Masih banyak yg harusnya menjadi bahan intropeksi diri bagi pemerintah yg harusnya mereka bisa wujudkan, bukan hanya sekedar janji-janji basi yg diutarakan pada saat mereka kampanye…..

Merdeka Indonesiaku……

Salam dan Hormat sy untukmu bangsa dan negaraku tercinta…..